Terik
panas membakar kulit. Tak mengurunkan niat untuk beristirahat. Hidup
sebatangkara untuk bertahan hidup yang penuh persaingan. Mengais sampah demi
rupiah tuk mengecap manis kehidupan. Tangan kanan membawa karung,sedangkan
tangan kiri membawa tongkat kayu panjang nan runcing. Keseharian itu ia jalani
dengan keikhlasan. Rasa malu telah ia buang jauh – jauh. Acuh saja dengan
celaan orang lain. Pekerjaan ini halal bukan haram. Sempat ia meneteskan air
mata membayangkan pahit manisnya kehidupan. Segera ia cepat – cepat mengusap
air mata yang ia teteskan dengan kaos yang ia kenakan. Bergegas ia mengayuh
sepeda butunya untuk mencari tempat sampah ke tempat yang lain.
Sore
itu ia merasa lelah, lalu kembali kerumah. Rumah kecil terbuat dari sekumpulan kardus.
Kalau hujan pun ia tak kembali kerumah itu, tetapi ia memilih beristirahat di
emperan toko yang sudah di tutup. Rumah kecil itu cukup untuk ia tempati
sendiri. Tepatnya di kolong jembatan. “Alhamdulillah hari ini karung yang
kubawa terisi penuh dengan sampah, ungkapnya seraya mengusap keringat yang
mengucur di jidatnya”. Ia merogoh
kantong saku celana dan masih ada dua ribu rupiah. Cukup untuk
mengganjal perut yang lapar.
Bergegas
ia pergi ke warung hik untuk membeli makanan dan minuman. Orang – orang solo di
sini sering menyebutnya dengan warung hik. Setelah ia membeli, ia segera untuk
pulang. Di pertengahan jalan ia melihat sosok nenek tua duduk termangu di
pinggir trotoar. Tak lama kemudian nenek itu melihatnya lalu mendekatinya.
“Mas
– mas, telung dino iki aku rung mangan, kata Si nenek itu dengan bahasa jawa
khas solo,nadanya yang serak halus nan wajah memelas”. Ia merasa kasian melihat
nenek itu, segera ia sambut tangan Si nenek dan memberikan plastik hitam yang
ia belanjakan tadi.
“Niki
mbah kulo gadah dhaharan,jenengan beto mawon, sahutnya dengan nada halus”.
“Suwun
banget nggeh mas, mugo – mugo koe di wenehi rizki sing akeh karo Gusti Allah,
kata Si nenek dengan wajah sumringah”.
“Injeh
sami – sami mbah”, sahutnya dengan senyum keikhlasan”.
Bersambung
...
Keterangan
:
“Mas – mas, telung
dino iki aku rung mangan. ( mas – mas, tiga hari ini saya belum makan).
“Niki mbah kulo
gadah dhaharan,jenengan beto mawon”. ( ini mbah saya punya makanan, anda bawa
saja).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar