Selasa, 15 Januari 2013

"Keikhlasan" ( cerbung )


Terik panas membakar kulit. Tak mengurunkan niat untuk beristirahat. Hidup sebatangkara untuk bertahan hidup yang penuh persaingan. Mengais sampah demi rupiah tuk mengecap manis kehidupan. Tangan kanan membawa karung,sedangkan tangan kiri membawa tongkat kayu panjang nan runcing. Keseharian itu ia jalani dengan keikhlasan. Rasa malu telah ia buang jauh – jauh. Acuh saja dengan celaan orang lain. Pekerjaan ini halal bukan haram. Sempat ia meneteskan air mata membayangkan pahit manisnya kehidupan. Segera ia cepat – cepat mengusap air mata yang ia teteskan dengan kaos yang ia kenakan. Bergegas ia mengayuh sepeda butunya untuk mencari tempat sampah ke tempat yang lain.   
Sore itu ia merasa lelah, lalu kembali kerumah. Rumah kecil terbuat dari sekumpulan kardus. Kalau hujan pun ia tak kembali kerumah itu, tetapi ia memilih beristirahat di emperan toko yang sudah di tutup. Rumah kecil itu cukup untuk ia tempati sendiri. Tepatnya di kolong jembatan. “Alhamdulillah hari ini karung yang kubawa terisi penuh dengan sampah, ungkapnya seraya mengusap keringat yang mengucur di jidatnya”. Ia merogoh  kantong saku celana dan masih ada dua ribu rupiah. Cukup untuk mengganjal perut yang lapar.
Bergegas ia pergi ke warung hik untuk membeli makanan dan minuman. Orang – orang solo di sini sering menyebutnya dengan warung hik. Setelah ia membeli, ia segera untuk pulang. Di pertengahan jalan ia melihat sosok nenek tua duduk termangu di pinggir trotoar. Tak lama kemudian nenek itu melihatnya lalu mendekatinya.
          “Mas – mas, telung dino iki aku rung mangan, kata Si nenek itu dengan bahasa jawa khas solo,nadanya yang serak halus nan wajah memelas”. Ia merasa kasian melihat nenek itu, segera ia sambut tangan Si nenek dan memberikan plastik hitam yang ia belanjakan tadi.
“Niki mbah kulo gadah dhaharan,jenengan beto mawon, sahutnya dengan nada halus”.
“Suwun banget nggeh mas, mugo – mugo koe di wenehi rizki sing akeh karo Gusti Allah, kata Si nenek dengan wajah sumringah”.
“Injeh sami – sami mbah”, sahutnya dengan senyum keikhlasan”.

Bersambung ...
Keterangan :
“Mas – mas, telung dino iki aku rung mangan. ( mas – mas, tiga hari ini saya belum makan).
“Niki mbah kulo gadah dhaharan,jenengan beto mawon”. ( ini mbah saya punya makanan, anda bawa saja).
“Suwun banget nggeh mas, mugo – mugo koe di wenehi rizki sing akeh karo Gusti Allah”. ( Terima kasih banyak ya mas, semoga kamu di beri rizki yang banyak dari Allah).

Tidak ada komentar: