Minggu, 02 Februari 2014

KAU

Seorang pemuda yang tampak lusuh pakaiannya
Bibirnya komat-kamit seakan seperti dukun
Matanya melotot seperti mata dewa
Penuh harap akan datangnya Si pelantun
                       
                        Sayang, hanya kata itu yang bisa menangkan
                        Matanya mulai berkaca-kaca
                        Si pelantun datang sembari membisikkan
                        Kau tak usah bersedih, kau tak usah berlinang air mata
                        Peluklah Tuhanmu
                        Peluklah Tuhanmu

Di saat genting seperti ini lihatlah sisa air hujan
Lihatlah dengan hati terbuka
Maka ketenangan itu Aku bersamamu

Pejamkan saja matamu
Pejamkan saja
Perlahan tutuplah kedua matamu lalu lelaplah
Agar dalam tidurmu terasa nyaman dalam pelukan-Ku

Karya : Hanif Syukur. A
Sukoharjo, 2 Februari 2014

Pukul : 12.40 WIB

Tidak ada komentar: